9

Gaiiisss, aku balik lagiiiiii, OMG!!!
Saking senengnya karena di notice Dokter AymanπŸ˜­πŸ˜­πŸ™

Berbagi kabar gembira itu indah dan menyenangkan, bukan?πŸ˜­πŸ™


"Mengira kamu menyukaiku adalah salah paham yang terus aku benarkan."

- Happy Reading -

β€’β€’β€’

Sembari menunggu suaminya bersiap-siap ke kantor, Shella iseng membaca jadwal Pak Arkan yang barusan dikirim oleh Dinar, sekretarisnya.

"Baca chat dari siapa?" tanya Pak Arkan yang melihat wajah serius istrinya.

Melihat Shella membuka ponselnya dengan wajah serius membuat ia sedikit was-was kalau perempuan itu membuka yang tidak-tidak. Meskipun isi ponselnya tidak ada rahasia apapun, tetap saja ia ngeri. Karena Shella terbiasa berasumsi berlebihan.

"Shell," panggilnya karena tak kunjung ada jawaban.

"Baca chat Mba Dinar, kamu hari ini jadwalnya banyak banget."

"Ketemu tiga klien, makan siang sama orang Jepang terus ke lapangan?" tebak Pak Arkan.

Shella mengangguk, "ke lapangan ngapain, Ay? Senam?" Tanyanya.

"Main kasti," balas suaminya semakin ngawur.

"Widihhh, kereeennn." Shella bertepuk tangan saja, meskipun tau kalau jawaban suaminya hanyalah bercandaan.

Yang benar saja, Pak Arkan sudah ganteng-ganteng pakai jas terus main kasti.

"Oh ya, ntar kalo makan siang sama orang Jepang, titipin salam buat Mas Nakamoto Yuta ya."

"Hah? Nakamoto? Temennya Sasuke?" tanya suaminya bingung. Bertambah lagi nama asing dalam keluarganya.

"Bukan, dia Bapaknya Jaemin."

"Hah?"

"Hah heh hoh mulu, kaya keong."

"Jaemin bukannya orang Korea? Terus kok Bapaknya orang Jepang?"

"Jokes Neng, jokes! Elah, tuh jokes tuh di motor lu."

Pak Arkan reflek melempar handuk basah bekas ia mandi tadi, tepat mengenai wajah istrinya, "ente kadang-kadang ente."

"Ih, durjana ya lempar-lempar handuk basah ke wajah cantik istrinya," omel Shella dan melempar balik handuknya sampai mendarat di ranjang.

"Cantik apaan? Kamu belum mandi kan?"

"Ehhhh, ente kadang-kadang ente, orang cantik tuh nggak mandi juga tetep cantik. Kamu nggak tau? Kalo dunia tuh milik si cantik, jadi yang cantik nggak pernah salah."

"Ho'oh, tenan."

"Sekalipun salah, lo cantik lo aman."

Pak Arkan mengangguk-anggukan kepalanya, "kalo kamu pernah salah?" tanyanya.

"Pernahlah, Shella kan cuma manusia biasa."

"Berarti kamu nggak cantik."

"DAEGAL PART DUA!!" teriak Shella sambil berjalan keluar kamar dengan langkah yang dihentak-hentakkan.

"Daegal tuh apa sih, Shell?" tanya Pak Arkan sambil mengejar langkah istrinya menuruni anak tangga.

"Anjingnya Tuan muda Chenle."

"Oh berarti kamu dari kemaren ngumpat?"

"Yoi, Bro, keren kan? Ngumpatnya anak kpopers tuh berkelas." Shella menaik-turunkan alisnya, tentu saja ibu dua anak itu merasa sangat bangga.

"Idihh, tapi abis ini aku udah tau," sahut suaminya tak kalah bangga.

"SHIBAL."

"Shibal apa lagi?" tanya Pak Arkan, perasaan banyak sekali kosakata asing yang ia dengar dari mulut istrinya.

"Kepoooooo."

"Oh, aku tau, shibal tuh yang suka di Toktok itu kan?"

"Hah? Apa?" Kali ini giliran Shella yang bingung.

"SLEBBEEEWWW."

"BEDAAAAA."

β€’β€’β€’

"Sekarang kalian bikin kelompok ya, satu kelompok anggotanya 4 orang, jadi bisa dengan meja belakang."

Belum apa-apa El sudah menghela nafasnya, bagaimana tidak, pasalnya yang duduk dibelakangnya ialah Tamara dan Airin, dua perempuan yang paling ia hindari di kelas ini.

"Di halaman 86 ada 4 soal, nah kalian kerja sama dengan kelompok masing-masing, jawabannya ditulis di kertas terus nanti dikumpulkan di meja Ibu ya."

"Jangan ribut ya, kalian kerjakan dulu, Ibu tinggal sebentar."

Kenzo melirik El yang wajahnya sudah sangat masam karena harus satu kelompok dengan Tamara. "Nggak papa, El, kan ada Kenzo," ujarnya sedikit menghibur.

El menoleh, "nanti kalo Tamara ngeselin, namanya nggak usah ditulis di kelompok kita ya."

Kenzo mengangguk saja, daripada bocah disampingnya ini semakin menekuk wajahnya.

Tamara menoel-noel bahu El menggunakan penggaris, begitupun dengan Airin yang ikutan menoel-noel bahu Kenzo.

"Apa?" tanya El tak santai.

"Kita satu kelompok, El sama Kenzo duduknya ngadep sini."

"Iya," balas El sambil memutar bola matanya malas.

El dan Kenzo memutar bangkunya menjadi menghadap belakang, berhadap-hadapan dengan dua manusia rempong yang ingin sekali El jambak rambutnya.

"Kalian cari jawabannya ya, biar Tamara yang nulis," usul Tamara, sudah siap dengan pensil dan dua lembar kertas tengahan yang sudah bocah itu sobek.

"Semuanya harus mikir lah, enak banget Tamara cuma nulis," balas El tak terima.

"Kan tulisan Tamara bagus," sahutnya lagi tak mau kalah.

"Terus kamu pikir tulisan El sama Kenzo nggak bagus?" tanya El nyolot.

"Tulisan Airin juga bagus," timpal bocah berkepang kuda itu.

"Diem, kamu tuh nggak diajak," ujar El menimpali.

"El nggak boleh gituuuuuu, kita kan satu kelompok, jadi semuanya diajak."

"Apasih, bercanda doang. Gitu aja baper."

"Bercandanya El kan nggak lucu."

"Nggak semuanya bercanda harus lucu."

"Harus! Kalo nggak lucu berarti bukan bercanda."

"Sudah, Tamara, jangan ribut, El lucu kok." Airin mencoba menghentikan keributan dua saudara yang tidak pernah akur itu.

"Tuh kan, Airin masih belain kamu, padahal kamu jahat. Kamu harus minta maaf sama bilang makasih ke Airin."

"Males," balas El, bocah itu langsung buang muka dan pura-pura sibuk dengan buku LKS nya.

"Nomer satu jawabannya ini," ujar Airin sembari menunjukkan halaman LKS nya yang sudah di stabilo.

"Bukannya ini?" Tanya Kenzo setelah melihat jawaban yang ditunjuk Airin.

"Punya Airin sama Kenzo kayaknya bener semua, tapi jawaban Kenzo lebih panjang. Jadi Tamara tulis jawaban Airin saja ya yang sedikit?" Ujar Tamara meminta saran.

"Yang benar jawaban Kenzo," bantah El.

"Punya Kenzo sama punya Airin, intinya sama aja kok, El." Kenzo mencoba menengahi.

"Enggak, lebih betul jawaban yang panjang," balas bocah itu tak mau kalah.

Tamara menghela nafasnya, "yasudah, ini El yang tulis jawabannya." Bocah itu menyerahkan kertasnya pada El.

"Tidak mau, tadi katanya tulisan kamu yang bagus," tolaknya tanpa pikir panjang, El bahkan tidak mau menyentuh kertas sobekan dari buku Tamara.

Lagi-lagi Tamara menghela nafasnya, entah kapan ia tidak naik darah jika sudah berdebat dengan Gabriel.

"Sini Airin aja yang tulis."

"Tapi tulis jawaban Kenzo yang panjang," sahut El.

"Iya, El," balas Airin mengpasrah.

β€’β€’β€’

Hari ini Bapak Arkan Dirgantara lembur sampai jam 5 sore. Ia baru saja sampai rumah sekitar pukul 17.45, dan rasanya ingin cepat-cepat rebahan.

Selesai makan malam, ia tidak menuju ruang kerja seperti biasannya. Malam ini ia ingin menemani anak-anaknya belajar saja di ruang keluarga, bersama istri tercinta yang hobi menguras harta.

Ia mengambil anggur yang masih tersisa satu di atas piring, dan langsung memakannya tanpa bertanya itu milik siapa.

"SAYAAAAAANG," teriak Shella membuat ia hampir saja mati tersedak anggur.

"Apasih? Teriak-teriak kaya di hutan."

"Itu anggur punya Shella tauuuuu, dateng-dateng langsung nyomot makanan orang," omelnya.

"Ya Allah, sebiji doang, Nyaii."

Shella melipat kedua tangannya didepan dada, "nggak boleh tauuuu makan hak anak yatim."

"Oh iyaa, lupa kalo kamu anak yatim." Pak Arkan mengusap-usap kepala Shella dengan tidak sabaran.

"Berarti pahalaku udah banyak ya, Shell, kan tiap hari menyantuni anak yatim," celetuknya.

"Tolong dibedakan ya, Kak, antara menyantuni anak yatim dan menafkahi istri sah." Shella menatap tajam suaminya, dark jokes sekali pembahasan mereka malam ini.

"Anak yatim itu apa, Nda?" Tanya Al tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku gambar dan juga krayonnnya.

"Anak yang udah nggak punya Ayah," balas Bundanya, sontak kedua anaknya kompak menoleh.

"Bunda nggak punya Ayah?" Tanya El.

"Itu apa?" Tunjuk Al pada Ayahnya.

Shella menghela nafasnya, ia memegang kedua bahu suaminya, "ini Bapak Arkan, Ayah El sama Al, bukan Ayahnya Bunda."

"El pikir sama saja."

"Kalo sama saja, kita bertiga Kakak-beradik dong," sahut Shella lirih.

"Tua banget dong aku." Pak Arkan menoleh sambil menimpali.

"Ya, emang iya kan?"

Pak Arkan tak lagi menyahut, ia malah membayangkan kalau Shella anak sulungnya, berarti ia sudah seumuran dengan Bunda Maya dong ya.

Perasaan ia belum setua itu.

"El dari tadi gonta-ganti kertas, lagi nulis apa, sayang?" Tanya Shella yang sedari tadi memperhatikan anaknya bolak-balik menyobek kertas.

"Cita-cita, Nda," balasnya dengan wajah masam. "Cita-cita yang bagus tuh apa, Nda?" Tanyanya frustasi.

"Semua cita-cita bagus kok, memangnya El mau jadi apa?"

"El mau jadi laki-laki hebat seperti Ayah," balas El spontan. Hal itu sontak membuat Pak Arkan tersenyum bangga.

Ada juga sisi positif anaknya yang bisa ia banggakan.

"CAKEPPPP, kamu harus mengikuti langkah-langkah Ayahmu," sahut Ayahnya penuh rasa bangga.

"Kalau Al, ingin menjadi pekerja keras seperti Papi Jaemin," sahut Al, masih tetap fokus dengan tugas mewarnainya.

"Kamu pikir Ayahmu selama ini nggak kerja keras?" Pak Arkan refleks melempar kulit kacang, tepat mengenai punggung anak bontotnya.

Shella tertawa terpingkal-pingkal melihat raut kesal suaminya, gampang sekali membuat wajah laki-laki dewasa itu memerah.

Cukup apa?

Ya, betul. Cukup masukkan nama Jaemin dalam percakapan keluarganya.

"Ntar kamu lama-lama, Ayah jual sama Papi Jaemin mu itu ya," ancamnya bercanda.

Al menoleh, "tapi sama Bunda juga yaa."

"Enak aja," sungutnya tak santai.

Niat jual anak, malah buy one get one sama istrinya sekalian.

Bisa-bisa ia solo berbulan-bulan.

Shella semakin ngakak dengan percakapan Bapak dan anak itu. Mau-maunya Pak Arkan emosi hanya karena bercandaan anak TK.

Huft, mau Arkan, tapi heran.

"Cita-cita El gimana, Ndaaaaaaa?" Rengek El yang malah diabaikan.

"Jadi Dokter aja, bantuin Dokter Ayman," sahut Ayahnya tanpa pikir panjang.

"Heh, bener juga." Shella berbicara disela-sela tawanya, "nanti kamu ambil alih cabang fiksi," sambungnya dan lanjut tertawa lepas.

"Nahkan, itung-itung mengurangi beban beliau."

El menarik nafas sepanjang jalan kenangan, "kata Ompin, sekolah Dokter itu mahal."

"Eiittss, sejak kapan keluarga Dirgantara memusingkan perkara biaya?" Tanya Shella sambil berkacak pinggang.

"Tenang, anak-anak, apa gunanya punya Ayah anak tunggal kaya raya."

"That's right! Warisanku, siap menafkahi anak-anakmu."














MANTOOOOLLLLL

5K VOTE, 5K KOMEN FOR NEXT PART!!!

See you

Senin, 05 September 2022
17.55

List Chapter